JAKARTA - Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) bercita-cita mengembalikan kemesraan antara Indonesia dan Rusia setelah berakhirnya era perang dingin. Hubungan baik kedua negara, seperti pada zaman Pemerintahan Soekarno, sudah waktunya kembali dirajut demi kebaikan Indonesia di era globalisasi.
“Bukan karena apa-apa, tapi untuk membangun keseimbangan di era globalisasi. Kita harus berada di tengah-tengah atau akan terjebak di antara barat dan timur,†kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj kepada Okezone, usai lawatan selama enam hari di Rusia, Minggu (16/6/2012).
Kiai Said begitu biasa dia disapa bersama Sekjen PBNU Marsyudi Suhud, Ketua PBNU Iqbal Sulam, Bendahara LTN PBNU Muhammad Said Aqil, dan Ketua Muslimat NU Nurhayati Said Aqil berada di Rusia selama enam hari dalam rangka memenuhi undangan Mufti Rusia, Rowi Ainuddin. Rombongan baru kembali ke Tanah Air pada Sabtu 15 Juni 2012 malam.
Di sana, rombongan PBNU diperkenalkan dengan komunitas muslim yang sudah berjumlah sekira 24 juta orang serta mengunjungi peninggalan-peninggalan peradaban Islam.
Menurut Kiai Said, Islam lebih dulu masuk ke Rusia ketimbang Kristen. Dijelaskannya, pada zaman Khalifah Utsman bin Affan, ada tiga sahabat yang membawa ajaran Islam ke Rusia. Satu di antaranya bahkan meninggal di Rusia dan dimakamkan di sana. Sementara dua orang lainnya kembali ke Arab Saudi.
Mayoritas muslim Rusia menganut faham sunni, sehingga amaliyahnya tidak banyak berbeda dengan umat Islam di Indonesia. Di sana juga telah berdiri universitas Islam dengan jumlah mahasiswa mencapai 200 orang.
“Orang Rusia sekarang lagi gandrung dengan Islam, sama seperti Turki. Kalau dakwah digalakkan pasti jumlah umat Islam di Rusia akan terus bertambah. Belasan anggota parlemen sudah memeluk Islam. Banyak juga pengusaha muslim di sana. Pemerintah di sana, meski komunis, namun memberikan kebebasan kepada umat Islam,†ungkapnya.
Kembali pada hubungan bilateral Indonesia-Rusia, NU secara tegas menyatakan siap menjembatani ke arah yang lebih baik. Kiai Said menegaskan, kedua negara pernah menjalani masa bulan madu di Era Soekarno. Namun, setelah perstiwa 30 September 1965, hubungan kedua negara sempat renggang.
Baru pada era Menteri Luar Negeri Hamid Awaluddin, hubungan kedua negara coba dicairkan kembali. “Senayan, Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, dan Tugu Tani itu meniru Rusia,†ungkapnya.
Melalui lawatan selama hampir sepekan di Rusia, NU telah menjalin kerjasama di bidang pendidikan, ekonomi, seni, dan budaya. Dalam waktu dekat, delegasi Rusia juga akan membalas kunjungan ke Indonesia.
Di penghujung wawancara, Kiai Said menegaskan hubungan baik Indonesia dan Rusia akan lebih banyak mendatangkan manfaat ketimbang mudharat. “Ada 15 ribu pengusaha muslim di Rusia. Makanya, NU siap menjadi second line diplomacy Pemerintah Indonesia. Pak Djoko (Suyanto) sudah pernah ke sana, tinggal Pak SBY yang belum,†tandasnya.
(trk)
Sindikasi news.okezone.com
NU Ingin Indonesia-Rusia Kembali Mesra